Telp: (0252) 201907 - Email: disketapang@lebakkab.go.id

LEBAK. – Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Lebak melaksanakan Program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia (TTI).
Kepala Bidang Distribusi dan Pemanfaatan Pangan Dani Hendarman menjelaskan, Toko Tani Indonesia di Lebak berada di Kecamatan Warunggunung yang dikelola oleh Suherman. Toko ini menyediakan berbagai macam produk hasil tani, seperti beras, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Kemudian daging ayam, telur ayam, hingga daging kerbau.

“Semua itu bisa didapat dengan harga yang cukup murah dibandingkan harga pasaran. Toko Tani Indonesia, selain menjual hasil pertanian dengan harga yang cukup terjangkau oleh masyarakat, juga melindungi konsumen dari tingginya harga pangan, sehingga tercipta tata niaga pangan yang berkeadilan,” kata Dani usai kegiatan Program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia, Selasa (24/10).

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak Kosim Ansori mengatakan, sesuai amanat UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, sudah sangat jelas bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertugas mengendalikan ketersediaan bahan pangan pokok dan strategis di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketersediaan bahan pangan pokok harus tersedia dalam jumlah yang memadai, mutu yang baik, serta harga yang wajar untuk dapat menjangkau daya beli di tingkat konsumen atau masyarakat.

“Program PUPM TTI dalam rangka menstabilkan pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen, serta pemenuhan ketersediaan pangan ini digulirkan Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan. PUPM juga untuk menyerap produk pertanian dengan harga yang layak dan menguntungkan bagi para petani pangan, menstabilkan pasokan dan harga bahan pangan pokok dengan harga yang terjangkau dan wajar,” ujarnya.

LEBAK. - (2/11/2017) Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan bentuk integrasi dari sekumpulan pekarangan untuk memenuhi penyediaan pangan kebutuhan rumah tangga.

Agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat terhadap keindahan lingkungan maka perlu dilakukan penataan. Penataan lingkungan kawasan diperlukan agar dapat membentuk lingkungan asri dan nyaman, serta menjadi daya tarik bagi orang lain untuk melakukan replikasi.

Penataan pekarangan dan pemanfaatan lahan pekarangan harus disesuaikan dengan lahan yang tersedia di masyarakat. Berdasarkan luasan lahan dan pemanfaatannya, pekarangan dapat digolongkan menjadi:

a. Strata 1 (kategori sempit)

1) Luas pekarangan <100 m2, atau tanpa pekarangan (hanya teras rumah).

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah dengan teknik budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur atau kolam tong.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung; •Tanaman obat keluarga (Toga) misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Budidaya ikan air tawar seperti lele, nila, dsb.

b. Strata 2 (kategori sedang)

1) Luas pekarangan 100-300 m2.

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah dengan teknik budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur, bedengan/sorjan di sisi batas pekarangan, kandang ayam sistem ren dan kolam ikan terpal.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung dsb; •Toga misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Umbi-umbian misalnya ubi jalar, ubi kayu, talas, dan lainnya yang mempunyai pangsa pasar dan subtitusi sumber karbohidrat; •Budidaya ikan tawar misalnya ikan lele, nila, gurami.

c. Strata 3 (katagori luas)

1) Luas pekarangan >300 m2.

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur, bedengan/sorjan di sisi batas pekarangan, hamparan, kandang ayam sistem ren, kandang kambing dan kolam terpal/tanah.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung dsb; •Toga misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Umbi-umbian misalnya ubi jalar, ubi kayu, talas, mbote, garut dan lainnya yang mempunyai pangsa pasar dan subtitusi sumber karbohidrat; •Ternak ayam buras; •Budidaya ikan air tawar misalnya ikan lele, nila, gurami; •Buah-buahan seperti nenas, pisang, jeruk manis, mangga unggulan, pepaya, sawo dsb; •Tanaman pakan ternak (leguminose); pagar hidup.

Penataan yang baik menjadikan lingkungan yang indah dan menyenangkan. Desain untuk penataan tanaman pada lingkungan kawasan disusun secara bersama-sama seluruh warga masyarakat dengan memperhatikan estetika dan kepentingan warga. (ADVERTORIAL/DINAS KETAHANAN PANGAN KABUPATEN LEBAK)

LEBAK. – (18/12/2017) Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak selalu berupaya mengoptimalkan pangan lokal, karena masih tingginya konsumsi masyarakat pada beras serta pola konsumsi pangan yang belum beragam, bergizi dan seimbang.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak Kosim Ansori mengatakan, hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap keberlanjutan pangan, jika masyarakat hanya mengandalkan beras sebagai pangan pokok. Mengingat perubahan iklim global yang terasa merubah dan mempengaruhi produksinya, serta semakin berkurangnya lahan pertanian.

“Kita sudah melakukan berbagai upaya dalam optimalisasi pangan tersebut diantaranya, mempromosikan penganekaragaman konsumsi pangan, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi seimbang, meningkatkan keterampilan dalam pengembangan olahan pangan lokal dan mengembangkan teknologi tepat guna untuk pengolahan pangan lokal,” tuturnya.

Ditambahkan Kosim, menurut UU 18 tahun 2012 bahwa pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumen (manusia-red), termasuk bahan tambahan pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan pembuatan makanan atau minuman. Sedangkan pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi dan sumberdaya wilayah dan budaya setempat.

“Dan Indonesia adalah negara dengan kekayaan keragaman hayati kedua setelah Brazil, dengan kurang lebih ada 800 spesies tanaman sumber bahan pangan, 1.000 spesies tanaman obat-obatan, 77 sumber karbohidrat, 75 sumber minyak atau lemak, 26 kacang-kacangan, 389 buah-buahan, 228 sayur-sayuran, 40 bahan minuman, 110 rempah-rempah. Rasanya kurang bijak bila hanya mengandalkan satu macam saja untuk makanan pokok, dengan besarnya sumber daya alam dan potensi keberagaman ini, agar dapat dikembangkan,” jelasnya. (ADVERTORIAL/DINAS KETAHANAN PANGAN KABUPATEN LEBAK)

Page 2 of 2