Telp: (0252) 201907 - Email: disketapang@lebakkab.go.id

Panjangnya rantai pasok komoditas pangan disinyalir sebagai faktor yang menyebabkan tidak efisiensinya tata niaga pangan. Hal ini diindikasikan oleh tidak seimbangnya perolehan marjin dari masing-masing pelaku pasar. 

‚ÄčKondisi timpang ini telah berlangsung lama dan berkontribusi sangat nyata terhadap tingkat kesejahteraan petani. Disisi lain, panjangnya pelaku tata niaga pangan tersebut membuat konsumen sulit memperoleh harga wajar sehingga harus menerima harga akumulasi dari marjin keuntungan yang diperoleh dari pelaku rantai pasok. 

Mencermati kondisi tata niaga pangan tersebut, Kementerian Pertanian cq Badan Ketahanan Pangan menggulirkan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Kegiatan Toko Tani Indonesia (TTI) sebagai terobosan baru guna memangkas rantai pasok. Oleh karena itu. Kegiatan ini membawa misi untuk melindungi produsen dari jatuhnya harga dan disisi lain, melindungi konsumen dari tingginya harga pangan sehingga tercipta tata niaga pangan yang berkeadilan.

Lebak.- Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak menyalurkan beras untuk masyarakat sejahtera hingga bulai Mei 2017 mencapai 5.332.208 kilogram (kg) dari total 19.121.760 kg yang dipersiapkan.

"Kami mengapresiasi penyaluran rastra mencapai 27,89 persen sehingga mencapai target nasional," kata Kepala Bidang Distribusi dan Pemanfaatan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak, Dani Hendarman saat dihubungi di Lebak, Jumat (19/5).

Demi Mencukupi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan. Pemerintah Kabupaten semakin gencar menyalurkan rasta.

Pendistribusian rastra hingga kini berjalan lancar ke 345 desa dan kelurahan sehingga memenuhi kebutuhan pangan juga dapat mengendalikan inflasi.

Saat ini, menjelang Ramadhan dipastikan harga kebutuhan bahan pokok melonjak.

Karena itu, pendistribusian rastra sangat membantu untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Masyarakat menerima rastra sebanyak 15 kilogram per KK dengan harga di tingkat titik distribusi sebesar Rp1.600 per kg.

Saat ini, jumlah penerima rastra di Kabupaten Lebak sebanyak 106.232 KK tersebar di 28 kecamatan.

"Kami hingga kini belum menerima laporan warga Lebak mengalami ancaman kerawanan pangan setelah penyaluran rastra berjalan lancar," katanya.

Menurut Dani, saat ini penyerapan rastra mencapai 27,89 persen atau 5.332.208 kilogram (kg) dari total pagu 19.121.760 Kg.

Penyerapan rastra itu tampak lancar setelah kepala desa atau lurah setempat mengajukan kepada Dinas Ketahanan Pangan.

Pengajuan rastra itu, kata dia, nantinya diusulkan ke Perum Bulog Divre Lebak-Pandeglang.

"Dengan pengajuan ke Bulog itu nanti langsung dipasok beras bersubsidi ke daerah bersangkutan," ujarnya menjelaskan.

Sejumlah ibu rumah tangga warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku bahwa mereka sangat terbantu adanya penyaluran rastra sehingga bisa mengurangi beban ekonomi keluarga.

Saat ini, harga beras jenis premium di pasaran kisaran Rp9.000 sampai Rp9.800 per kilogram.

Namun, mereka warga sangat lega setelah menerima rastra dengan harga murah dan terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kami membeli rastra hanya Rp1.600 per kilogram dengan jatah sebanyak 15 Kg dan mencukupi selama 20 hari," kata Nurmanah (45) seorang ibu rumah tangga warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak.

LEBAK. - (2/11/2017) Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan bentuk integrasi dari sekumpulan pekarangan untuk memenuhi penyediaan pangan kebutuhan rumah tangga.

Agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat terhadap keindahan lingkungan maka perlu dilakukan penataan. Penataan lingkungan kawasan diperlukan agar dapat membentuk lingkungan asri dan nyaman, serta menjadi daya tarik bagi orang lain untuk melakukan replikasi.

Penataan pekarangan dan pemanfaatan lahan pekarangan harus disesuaikan dengan lahan yang tersedia di masyarakat. Berdasarkan luasan lahan dan pemanfaatannya, pekarangan dapat digolongkan menjadi:

a. Strata 1 (kategori sempit)

1) Luas pekarangan <100 m2, atau tanpa pekarangan (hanya teras rumah).

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah dengan teknik budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur atau kolam tong.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung; •Tanaman obat keluarga (Toga) misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Budidaya ikan air tawar seperti lele, nila, dsb.

b. Strata 2 (kategori sedang)

1) Luas pekarangan 100-300 m2.

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah dengan teknik budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur, bedengan/sorjan di sisi batas pekarangan, kandang ayam sistem ren dan kolam ikan terpal.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung dsb; •Toga misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Umbi-umbian misalnya ubi jalar, ubi kayu, talas, dan lainnya yang mempunyai pangsa pasar dan subtitusi sumber karbohidrat; •Budidaya ikan tawar misalnya ikan lele, nila, gurami.

c. Strata 3 (katagori luas)

1) Luas pekarangan >300 m2.

2) Penataan pekarangan yang sesuai adalah budidaya dan alokasi pot polybag/vertikultur, bedengan/sorjan di sisi batas pekarangan, hamparan, kandang ayam sistem ren, kandang kambing dan kolam terpal/tanah.

3) Komoditas yang dikembangkan: •Sayuran misalnya cabai, terong, tomat, sawi, kenikir, bayam, kangkung dsb; •Toga misalnya laos, jahe, kencur, sirih; •Umbi-umbian misalnya ubi jalar, ubi kayu, talas, mbote, garut dan lainnya yang mempunyai pangsa pasar dan subtitusi sumber karbohidrat; •Ternak ayam buras; •Budidaya ikan air tawar misalnya ikan lele, nila, gurami; •Buah-buahan seperti nenas, pisang, jeruk manis, mangga unggulan, pepaya, sawo dsb; •Tanaman pakan ternak (leguminose); pagar hidup.

Penataan yang baik menjadikan lingkungan yang indah dan menyenangkan. Desain untuk penataan tanaman pada lingkungan kawasan disusun secara bersama-sama seluruh warga masyarakat dengan memperhatikan estetika dan kepentingan warga. (ADVERTORIAL/DINAS KETAHANAN PANGAN KABUPATEN LEBAK)

LEBAK. – Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Lebak melaksanakan Program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia (TTI).
Kepala Bidang Distribusi dan Pemanfaatan Pangan Dani Hendarman menjelaskan, Toko Tani Indonesia di Lebak berada di Kecamatan Warunggunung yang dikelola oleh Suherman. Toko ini menyediakan berbagai macam produk hasil tani, seperti beras, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Kemudian daging ayam, telur ayam, hingga daging kerbau.

“Semua itu bisa didapat dengan harga yang cukup murah dibandingkan harga pasaran. Toko Tani Indonesia, selain menjual hasil pertanian dengan harga yang cukup terjangkau oleh masyarakat, juga melindungi konsumen dari tingginya harga pangan, sehingga tercipta tata niaga pangan yang berkeadilan,” kata Dani usai kegiatan Program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia, Selasa (24/10).

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak Kosim Ansori mengatakan, sesuai amanat UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, sudah sangat jelas bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertugas mengendalikan ketersediaan bahan pangan pokok dan strategis di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketersediaan bahan pangan pokok harus tersedia dalam jumlah yang memadai, mutu yang baik, serta harga yang wajar untuk dapat menjangkau daya beli di tingkat konsumen atau masyarakat.

“Program PUPM TTI dalam rangka menstabilkan pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen, serta pemenuhan ketersediaan pangan ini digulirkan Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan. PUPM juga untuk menyerap produk pertanian dengan harga yang layak dan menguntungkan bagi para petani pangan, menstabilkan pasokan dan harga bahan pangan pokok dengan harga yang terjangkau dan wajar,” ujarnya.

LEBAK. – (18/12/2017) Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak selalu berupaya mengoptimalkan pangan lokal, karena masih tingginya konsumsi masyarakat pada beras serta pola konsumsi pangan yang belum beragam, bergizi dan seimbang.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak Kosim Ansori mengatakan, hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap keberlanjutan pangan, jika masyarakat hanya mengandalkan beras sebagai pangan pokok. Mengingat perubahan iklim global yang terasa merubah dan mempengaruhi produksinya, serta semakin berkurangnya lahan pertanian.

“Kita sudah melakukan berbagai upaya dalam optimalisasi pangan tersebut diantaranya, mempromosikan penganekaragaman konsumsi pangan, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi seimbang, meningkatkan keterampilan dalam pengembangan olahan pangan lokal dan mengembangkan teknologi tepat guna untuk pengolahan pangan lokal,” tuturnya.

Ditambahkan Kosim, menurut UU 18 tahun 2012 bahwa pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumen (manusia-red), termasuk bahan tambahan pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan pembuatan makanan atau minuman. Sedangkan pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi dan sumberdaya wilayah dan budaya setempat.

“Dan Indonesia adalah negara dengan kekayaan keragaman hayati kedua setelah Brazil, dengan kurang lebih ada 800 spesies tanaman sumber bahan pangan, 1.000 spesies tanaman obat-obatan, 77 sumber karbohidrat, 75 sumber minyak atau lemak, 26 kacang-kacangan, 389 buah-buahan, 228 sayur-sayuran, 40 bahan minuman, 110 rempah-rempah. Rasanya kurang bijak bila hanya mengandalkan satu macam saja untuk makanan pokok, dengan besarnya sumber daya alam dan potensi keberagaman ini, agar dapat dikembangkan,” jelasnya. (ADVERTORIAL/DINAS KETAHANAN PANGAN KABUPATEN LEBAK)

Page 2 of 2